Posted by: Emanuel Setio Dewo on: Mei 1, 2008
Ketika Tuhan mengangkatku dari keterpurukan, aku membuktikan bahwa aku mampu menanggung perkara-perkara kecil yang pada akhirnya aku diberi tanggung jawab yang besar. Dan berkat Tuhan itu memang begitu melimpah.
Tetapi kini mengapa aku menjadi seolah tidak mensyukuri kasih Tuhan? Apakah karena aku sudah jauh dari Tuhan karena tanggung jawabku yang semakin besar membuatku terlalu sibuk? Atau apakah aku sudah terjerat dalam keduniawian?
Ya, benar, aku sedang dalam suatu pergumulan yang seharusnya tidak perlu menjadi sebuah perkara besar. Tapi saat pergumulan itu mendera, aku seolah bukan diriku lagi. Bukankah seharusnya aku menjadi garam & terang dunia? Tetapi mengapa aku menjadi sambal yang pedas? Mengapa aku harus membuat pedas hidup sahabat-sahabatku?
Aku harus mengakui bahwa aku telah egois karena mementingkan diriku sendiri. Aku terlalu sombong dengan semua yang telah kucapai. Aku terlalu menuntut kelayakan yang seharusnya kuperoleh. Aku beranggapan bahwa aku memang pantas mendapatkannya. Tapi benarkah demikian? Dalam pergumulanku, aku mengaku bahwa aku salah.
Tuhan telah menegurku ketika aku pada akhirnya teringat nasehat dari Kolese 3:23,
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Entah bagaimana Tuhan bekerja, tetapi ayat ini menyadarkanku. Ya benar, aku seharusnya bekerja dengan sepenuh hati seperti bekerja untuk Tuhan.
Karena sampai detik ini aku telah banyak mengalami kasih Tuhan. Berkat Tuhan yang melimpah telah kunikmati. Tuhan telah bekerja dengan setia setiap hari dalam Kasih-Nya yang luar biasa. Lalu apa balasanku?
Apa pun yang terjadi, apa pun perlakuan kepadaku, aku akan menerimanya. Dan aku akan tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, karena aku bekerja untuk Tuhan.
Tuhan tuh sapa seh… sebuah ide.. ataukah hanya nama….kata “Tuhan” bisa dipake disemua peradaban dan kebudayaan…?? Tuhan sifatnya gak jelas.. Tuhan yang mana….??!! Knapa gak sebut aja namanya… karena batu pun bisa dianggap tuhan.
Emang bener kalo pada akhirnya hidup ini adalah untuk menjadi saluran berkat bagi orang laen yang membutuhkan supaya berkat yang melimpah tadi tidak “luber” ke hal lain yg tdk seharusnya en supaya berkat Tuhan juga ngalir terus berkelanjutan ..
Saya sendiri semakin tua (tapi masih gagah sich..) semakin menyadari kalo pada akhirnya kebahagiaan yg sejati cuma ada kalo kita hidup berserah kepada Tuhan..niscaya sukacita dan damai sejahtera bersama kita di setiap situasi yg kita alami..Amin
Dear fren,
Emang bener kalo pada akhirnya hidup ini adalah untuk menjadi saluran berkat bagi orang laen yang membutuhkan supaya berkat yang melimpah tadi tidak “luber” ke hal lain yg tdk seharusnya en supaya berkat Tuhan juga ngalir terus berkelanjutan ..
Saya sendiri semakin tua (tapi masih gagah sich..) semakin menyadari kalo pada akhirnya kebahagiaan yg sejati cuma ada kalo kita hidup berserah kepada Tuhan..niscaya sukacita dan damai sejahtera bersama kita di setiap situasi yg kita alami..Amin
Mei 5, 2008 pada 1:16 pm
syukurlah…akhirnya kita mengingat Tuhan lagi.
Tak apa, memang kita harus mengalami suatu kejadian supaya kita bisa merasakan hadirnya Tuhan.
Satu penyakit yang paling berbahaya adalah kesombongan. Saya pun pernah mengalami hal ini, dan dalam perenungan saya, saya menyadari bahwa saya yang sekarang beda dengan saya yang dulu dalam hal motif bekerja. Akhirnya saya bertekad untuk kembali pada saya yang dulu, yang bekerja dengan penuh ikhlas dan tidak berorientasi pada kepentingan diri sendiri.