Posted by: Emanuel Setio Dewo on: April 12, 2009
Hatiku terkoyak-koyak dalam ketermenunganku. Rupanya di sana tercecer banyak sekali kekecewaan dan penyesalan. Tak kuasa rasanya aku membersihkan ceceran itu. Betapa banyak dan menyesakkan jiwa. Sesekali membersihkan, tapi kenapa ceceran itu datang dan datang lagi? Seolah tanpa berkesudahan menodai hatiku. Ingin rasanya berontak, tapi kepada siapa?
Dalam Misa Malam Paskah kemudian aku kembali termenung. Bukankah Yesus pun memiliki banyak peristiwa-peristiwa yang membuat-Nya kecewa? Ketika DIA mendapati bait Allah menjadi tempat berdagang; ketika DIA dikhianati oleh murid-Nya sendiri dengan menyerahkan-Nya kepada serdadu Romawi; ketika para murid-Nya melarikan diri saat Yesus ditangkap; ketika murid kesayangan-Nya menyangkal DIA; ketika para murid tidak mengenali-Nya saat kebangkitan-Nya; ketika murid-Nya tidak mempercayai bahwa DIA telah bangkit; dan tentu saja masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang patut membuat-Nya kecewa. Tetapi apakah Yesus kecewa?
Ternyata Yesus tidak kecewa. Betapa besar peristiwa yang telah dialami-Nya yang membuat-Nya sedih, tetapi itu semua tidak membuat-Nya kecewa. Malahan Yesus mengampuni para murid dan umat manusia betapa pun besarnya salah mereka. Hanya kata pengampunan yang terucap dari bibir-Nya. Pengampunan kudus yang keluar dari hati-Nya yang penuh belas kasih kepada manusia.
Tiada bandingnya apa yang kualami dengan apa yang telah Yesus alami.
Lalu mengapa aku harus kecewa? Rupanya aku harus banyak belajar dari Yesus Kristus, Sang Guru, Sang Tuhan-ku. Aku mulai menyadari bahwa peristiwa-peristiwa yang mengecewakan itu memang harus hadir dalam hatiku. Itu tidak hanya membuatku lebih kuat, tetapi membuat hatiku lebih besar, lebih lapang. Dan juga membuatku lebih berpikir dengan baik bahwa kita harus memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Tuhan telah mengajarku untuk dapat memiliki hati yang besar, hati yang penuh kasih, seperti hati-Nya.
Terima kasih Tuhan, di Paskah ini Engkau telah mengajarku dengan baik.
Selamat Paskah bagi keluarga kecilku (Sisi, Axel & Kirana), orang tuaku & mertua tercinta, saudara-saudaraku terkasih, dan sahabat-sahabatku yang sangat kukasihi. Tuhan telah memilih kita untuk menjadi murid-Nya, bukan kita yang memilih-Nya.