EMANUEL

Cara Mengemis Yang Baik

Posted by: Emanuel Setio Dewo on: Agustus 24, 2009

Judul yang sangat iseng tentunya, seiseng apa yang mau daku utarakan di sini. Tapi ini pengalaman pribadi antara daku dengan seorang pengemis wanita di sebuah pertigaan, yang seolah ingin menyampaikan sesuatu untuk dipelajari dalam hidup ini.

Dia adalah seorang ibu yang mencari nafkah dengan cara mengemis. Biasanya dia mangkal di pertigaan itu dengan 2 pengemis wanita yang lain. Ada sesuatu yang membedakan antara dia dengan 2 pengemis yang lain, yaitu semangatnya, dan juga senyum tulusnya.

Diawali dengan berjalan mendekati mobil, menundukkan diri sambil menengadahkan toples kecil (mungkin memang toples) bersih yang telah berisi beberapa keping uang. Sejak pertama kali melihatnya, daku sudah merasakan bedanya dengan pengemis lain. Yaitu karena wajahnya lebih nampak bersinar. Mungkin karena senyumnya yang tulus. Dan ketika kuberikan sekeping uang, dia menyambutnya dengan suka cita sambil dengan bersemangat mengucapkan, “terima kasih, Om.”

Nampaknya daku harus menggarisbawahi beberapa hal yang membedakannya dengan pengemis lain, yaitu: 1) dengan sopan dia mendatangi setiap mobil dengan membungkuk dan tersenyum seolah mengucapkan salam. Tidak hanya itu, dia melakukannya dengan penuh semangat. 2) menerima pemberian dengan penuh suka cita, dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Nampak sekali dia begitu gembira setiap menerima uang pemberian.

Mungkin pembaca menilai kalau daku terlalu subyektif dalam menilainya. Namun daku telah beberapa kali membuktikannya dengan memberinya uang setiap kali lampu merah menyala di pertigaan itu. Dan itu dia lakukan setiap kalinya.

Daku juga membandingkannya dengan ke-2 pengemis wanita lain yang sering kali mengemis bersamanya. Ke-2 pengemis wanita lain itu memang nampak memelas sekali. Mungkin ke-2 pengemis itu memasang wajah dimelas-melaskan supaya mendapat rasa simpati atau kasihan. Gerak mereka juga tidak selincah dan tidak sesemangat pengemis wanita yang kuceritakan tadi. Ketika diberi uang, keduanya hanya menunduk sekali tanpa senyuman atau ucapan terima kasih. Kadangkala keduanya berbicara dengan lirih, nyaris berbisik dan tidak terdengar, sehingga kita tidak tahu apa yang mereka katakan saat menerima pemberian.

Entah mengapa, daku kok lebih senang memberi uang kepada pengemis wanita yang pertama itu dari pada ke-2 pengemis yang sebenarnya lebih tipikal pengemis. Atau daku saja yang salah menilai? Bukankah yang diberi seharusnya yang benar-benar memelas? Bukankah seharusnya memberi yang benar-benar “pengemis”?

Walau pun pada akhirnya sering kali daku memberi ketiganya, namun daku tetap lebih senang memberi ke ibu yang pertama. Sehingga saat recehanku tinggal satu, aku lebih memilih memberi ke ibu yg pertama. Mungkin daku salah, namun ada sesuatu tersembunyi dari ibu itu yang seolah mengajarkan dan mengingatkan kepada kita akan Kolese ayat 3:23, yaitu:

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Oh, rupanya itu cara mengemis yang baik. Ups… rupanya itulah cara kita bekerja yang baik, yaitu dengan bekerja dengan segenap hati seperti bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, apa pun pekerjaan kita.

~~

Terkait: “Bekerja Seperti Bekerja Untuk Tuhan”

3 Tanggapan ke "Cara Mengemis Yang Baik"

Mengemis memang tidak salah, tapi menurut saya alangkah baiknya bila pengemis yang bersemangat tersebut berkarya di bidang lain. Bukannya saya mengabaikan kondisi mereka, tapi ada cara yang lebih baik untuk memperoleh rezeki yang Tuhan sediakan.
Salam kenal Kak Dewo!

@Tyok,
Benar sekali. BTW, ada lowongan pekerjaan utk dia? Siapa tau bisa membantunya.

Salam kenal juga.

pengemis itu karna terpaksa???

Tinggalkan Balasan


  • steven amalo: Yach, itulah yang disebut dengan menerima kasih karunia ALLAH. Kita semua adalah orang-orang yang telah menerima kasih karunia. TUHAN ALLAH begitu men
  • Hendrik Leverty: Syalom sdr Emanuel, Artikel yang bagus. Obat dari kepahitan adalah mengampuni dan melupakan. Biarlah kita semua belajar untuk cepat mengampuni. G
  • Jeki acun: Aku bersyukur Tuhan Yesus slalu mbrkatiku setiap saat, wlaupun aku trkadang sperti orang yg tidak tau berterimakasih, namun kasih-Nya sungguh ajaib. D

Kategori

Arsip