Disentuh Kasih Allah

Hari ini rasanya badan tidak fit. Rasanya tidak bersemangat untuk berangkat kerja. Pusing juga mengganggu kepalaku. Pikiran juga tidak bisa diajak konsentrasi sehingga tidak bisa bekerja dengan baik. Keluh kesahku kepada Tuhan bergaung deras di dalam hatiku.

Suasana hati tidak nyaman untuk bekerja. Akhirnya kuputuskan untuk pulang awal, yaitu pukul 15:00. Berjalan gontai sambil sesekali memijat dahi untuk mencoba mengusir penat dan pusing. Tapi tetap saja pusing itu mendera. Dan kuteguhkan langkahku menuju halte bis yang berjarak 500an meter itu.


Syukurlah bis P6 ke arah Cawang agak legaan sehingga aku dapat duduk di baris terdepan. Aku mencoba menyamankan diri walau pria di sebelahku telah menggunakan 1/4 jatah kursiku sehingga posisi dudukku tidak stabil. Sambil menyandarkan kepala aku mencoba mengatur nafas dan mulai merasakan hangatnya udara Jakarta beserta segala polutannya.

Memang hari ini cuaca sangat tidak nyaman, panas tetapi agak mendung. Tetapi sejak pagi aku tidak merasakan panas di tubuhku walau pun sudah merangkap kemejaku dengan kaos (bukan kaos dalam) & sudah terpapar cahaya matahari beberapa saat. Vitamin C dosis tinggi yang kuminum pagi tadi tidak dapat membantuk menguatkan kondisi tubuhku.

Beberapa penjual koran, makanan dan alat-alat tulis giat menjajakan dagangannya. Kusempatkan membeli permen untuk melegakan tenggorokan. Selama masa prihatin ini aku memang harus naik angkot untuk pergi-pulang dari rumah ke tempat kerja. Dan biasanya aku sudah menyiapkan beberapa lembar ribuah untuk ongkos angkot dan juga untuk pengamen atau pengemis.

Dalam hiruk-pikuk obrolan penumpang, kulihat seorang pengamen naik bisa. Penampilannya sangat memelas. Jalannya terlihat agak susah. Dipinggangnya terlingkat tali pengikat kedua kendangnya. Kuperhatikan kedua tangannya, rupanya dia tidak memiliki telapak tangan dan jari-jari. Kedua tangannya hanya berujung di pergelangan tangan, hanya lengan tanpa telapak dan jari-jemari. Duh, aku merasa sangat kasihan padanya.

Suaranya tidak keras ketika dia mulai bernyanyi diiringi tabuhan kendangnya. Walau pun begitu dia memukul kendangnya dengan bersemangat sekali seolah benar-benar musisi jempolan. Suaranya tidak nyaring tetapi tidak fals ketika menyanyikan lagu-lagu dangdut. Kendangnya sendiri tidak dapat bersuara nyaring atau pun merdu karena kulitnya kendor walau ditepuk (tepatnya dipukul) oleh kedua tangan buntungnya.

Kuperhatikan kedua tangannya, tampak dia telah mengalami cacat sejak lahir sehingga kedua tangannya tidak dapat berkembang. Mungkin pengaruh obat atau bisa juga pengaruh kerusakan genetik. Dugaanku diperkuat saat kulihat kakinya, rupanya kedua kakinya pun tidak memiliki telapak & jari-jari. Kedua sandal jepitnya tidak dapat melekat sempurna di kedua kakinya sehingga dia hanya menyeretnya saja.

Duh, aku mulai tersadar bahwa pengamen ini memiliki jiwa dan semangat yang besar untuk dapat hidup dan terus berjuang di masa hidupnya walau memiliki keterbatas fisik yang luar biasa. Tidak terperikan betapa besar sesungguhnya penderitaannya. Tetapi dia tetap memilih untuk terus berjuang dalam hidupnya dengan segala kekurangan dan keterbatasannya.

Lagi kedua telah usai dia lantunkan. Sejenak dia merogoh kantong kanan celana pendeknya. Aku sempat berpikir, bagaimana mungkin dia mengambil sesuatu dari kantong celananya jika dia tidak memiliki tangan? Mungkin dia mencari kantong untuk tempat uang. Merasa yang dicarinya tidak ada, dia mencoba merogoh saku celanan kanan. Tapi yang dicarinya tidak ada juga.

Akhirnya dia memelorotkan tali kendang yang melingkar di pinggangnya dan mengangkat kaki buntungnya terangkat dari sandalnya (yang entah bagaimana bisa tetap terjepit di kaki buntungnya) satu per satu untuk meloloskan tali kendang dari tubuhnya. Itu dilakukan dengan gesit di segala keterbatasannya, bahkan di atas bisa yang melaju agak ugal-ugalan. Dalam melakukannya pun dia tidak memegang kendang dengan tangannya, tetapi dengan mengapit kendang dengan kedua tangan buntungnya. Dia pun membalik kendangnya dan menjadikannya tempat untuk menampung uang para dermawan.

Dengan hati yang masygul aku memberikan derma baginya. Rasanya yang aku berikan sangat sedikit sekali. Walau pun dia mengucapkan “terima kasih”, kurasakan ucapannya tidak penting. Aku benar-benar memberi dengan tulus. Sayangnya aku tidak dapat memberikan banyak. Dalam hati aku mengucapkan doa baginya, semoga hidupnya dapat selamat dan selalu beroleh berkat dan rahmat dari Tuhan Allah.

Hal yang sangat jarang dapat kusaksikan sendiri. Aku merasa hatiku telah disentuh oleh kasih Allah. Salib yang kupanggul sebenarnya tidak lebih berat dari penderitaan pengamen buntung itu. Tetapi semangatku tidak lebih besar dari pada pengamen buntung itu. Dalam kilas balik ingatanku, sebenarnya aku tidak pernah mengalami penderitaan yang sangat berat. Ya, tidak pernah lebih berat dari pada pengamen buntung itu.

Uniknya rasa pusingku mendadak sirna. Tubuhku serasa hangat dan mulai dapat berkeringat. Hatiku serasa hampa menyadari bahwa sebenarnya aku mengalami kasih Allah yang berlimpah-limpah sepanjang hari selama hidupku. Aku hidup dalam penyelenggaraan kasih karunia Allah. Tetapi mengapa aku kurang bersyukur? Mengapa aku tidak merasakan kasih yang sebegitu besar dari Allah? Mengapa semangatku kecil walau sebenarnya aku selalu berkecukupan dan memiliki harapan masa depan yang sangat baik?

Kesadaranku juga terbuka: apakah aku juga telah memberikan kasih bagi sesama seperti halnya Allah melimpahkan kasih-Nya bagiku? Apakah saat memberi aku meminta pamrih? Apakah saat memberi aku mengharapkan ucapan terima kasih? Apakah aku memilih-milih saat akan memberikan bantuan atau pun derma?

Refleksi kasih sayang Allah yang tercermin dari pengamen buntung itu begitu besar dan telah menyentuh hatiku. Aku berjanji akan memperbaharui hatiku agar dapat lebih banyak memberikan kasih bagi sesama. Allah telah memberikan kasih-Nya padaku setiap saat dengan cuma-cuma, dan begitulah juga seharusnya aku. Aku juga seharusnya memberikan kasihku kepada sesama dengan cuma-cuma dan tidak pandang bulu walau pun kepada musuh sekalipun.

Tuhan telah memberikan yang terbaik bagiku. Walau pun sering kali aku merasa berat dalam memanggul salibku dan aku berkeluh-kesah karenanya, tetapi sebenarnya salib yang kupanggul itu sangat ringan dan manis rasanya.

Terima kasih Tuhan Allah yang telah memberikan kesadaran akan kasih-Mu yang sangat besar dan indah. Aku berharap pembaca juga dapat merasakan kasih Allah yang begitu indah dengan cara yang terbaik.

Salam.

Jakarta, 15 Agustus 2006

5 responses to “Disentuh Kasih Allah

  1. iya yah, kalo melihat keatas terus kapan kita merasakan bahwa Tuhan itu sangat baik bagi umatnya. kesaksian yang membangun,GBU

  2. Kesaksian yang luar biasa dari Saudara Imanuel, terbaik dari hidup kita adalah mengucap syukur atas apa yang kita miliki dan kita lewati hari ini, saya setuju dengan saudara Imanuel bahwa ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan kita maka tidak cukup hanya dengan memberikan materi saja tapi kita juga perlu mendoakan agar mereka dikuatkan dalam menghadapi setiap persoalan mereka.

  3. kasih itu sabar ,murah hati,tidak cemburu,tidak memegahkan diri,tidak melakukan yang tidak sopan,tidak mencari keuntungan sendiri,tidak pemarah,tidak menyimpan kesalahan orang lain,tidak bersukacita karena ketidak adilan,menutupi segala sesuatu,percaya segala sesuat,mengharapkan segala segala sesuatu.sabar menanggung segalala sesuatu,kasih tidak berkesudahan

  4. Allah itu baik ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s