Mati Raga

Rabu (21/02/2007) kemarin adalah hari Rabu Abu. Ini merupakan peringatan bagi kita bahwa kita ini hanyalah manusia yg dibuat dari debu/abu dan kelak akan mati dan kembali menjadi abu. Rabu Abu juga merupakan permulaan masa Pra Paskah.

Dalam masa Pra Paskah ini kita diajak untuk “mati raga.” Artinya bukan “mati” beneran, tetapi mematikan segala keinginan duniawi kita. Kita diajak untuk mematikan keinginan ragawi kita dan meningkatkan kehidupan rohani kita.


Mematikan keinginan raga (=duniawi) ini paling mudah dengan melaksanakan pantang & puasa. Kalau pantang ini artinya menghindari sesuatu yang biasanya kita konsumsi atau kita sukai. Misalnya pantang makan daging, asin, manis, coklat, rokok, dll. Apa yg kita buat menjadi pantangan adalah sesuatu yg kita senangi. Kan tidak lucu kalau aku pantang rokok padahal aku memang tidak merokok. Itu namanya bukan pantang. Tetapi karena aku suka makan yg coklat, maka aku pantang coklat. Atau bisa juga pantang suatu rasa, misalnya pantang makan makanan asin, manis, dll.

Kalau puasa di Katolik itu artinya makan kenyang sekali, misalnya pada saat makan malam saja. Sedangkan makan pagi dan siang hanya boleh makan & minum sedikit. Kalau bisa tidak usah makan sekalian. Tetapi jika tidak kuat, kita boleh makan sedikit.

Selain puasa & pantang, kita juga diajak untuk meningkatkan kehidupan rohaniah kita. Caranya macam-macam, bisa dengan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Banyak berdoa dan menyelami kasih Tuhan. Tetapi tidak hanya itu, kita juga harus membagikan kasih kepada sesama manusia. Bentuknya bisa berupa pelayanan atau pun bantuan finansial bagi sesama.

Kita harus peka terhadap sesama kita. Bukankah kita sudah menerima KASIH dari Allah? Bukankah itu semua diberikan secara gratis dari Allah? Sudah selayaknyalah kita juga membagikan kasih bagi sesama kita tanpa berharap balasan.

Selamat memasuki masa Pra Paskah. Tuhan memberkati.

4 responses to “Mati Raga

  1. sama halnya dengan “Mati Selagi Hidup” yaitu menarik kesadaran kita yang telah keluar dan membawanya masuk ke Pintu Ke Sepuluh, dimana kita bisa masuk ke dalam Kerajaan TUHAN
    salam,
    http://pengemistuhan.wordpress.com

  2. Pantang dan puasa seringan itu pun aku sering gak bisa menjalaninya. Justru ketika puasa ramadhan aku bisa ikutan. Karena apa? Karena lingkungan kita juga berpuasa.

    Justru pantang dan puasa cara kita terasa berat karena lingkungan kita tidak melakukan itu. Mudah tergoda, lupa.
    Mudah-mudahan puasa kali ini aku bisa menjalani dengan penuh. Selamat berpuasa.

  3. @Dear Mbak Pipit,

    Iya, justru yg tampak ringan itu justru yg sulit. Sering kali kita lupa kalau kita pada hari itu seharusnya pantang & puasa.

    Selamat berpantang & puasa. Salam.

  4. Ritual berpuasa memang ada pada ayat ayat kitab kitab suci Agama Samawi. Kita harus menghormatinya.
    Khusus pada Mbak Pipit, salam hormat kami sampaikan atas sikap Mbak tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s