Sulit Bersyukur

Seorang sahabat berkeluh kesah dengan penuh emosi padaku. Terutama tentang gajinya yang dirasa tidak memadai. Maklum, pengalaman kerjanya sudah lebih dari 15 tahun, tapi gaji yang diterimanya dirasa sangat kecil. Dia merasa bahwa fresh graduate pun bisa mencapai gaji sebesar dia.

Saat mendengar keluh kesahnya aku cuma bisa tersenyum tanpa menjawab. Aku tahu bahwa sahabatku sedang emosi dan rasanya tidak tepat jika aku menjawabnya saat itu. Mungkin saat hatinya sudah adem baru akan aku jawab.


Kemarahannya memang bisa dimaklumi. Tetapi aku sendiri cukup prihatin dengan pemikiran sahabatku itu. Dia kurang dapat bersyukur. Kalau pun dia benar-benar ingin peningkatan gaji, seharusnya dia bisa melakukannya dengan jalur yang baik tanpa perlu emosi di belakang seperti itu.

Sahabatku, aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa sebenarnya kamu termasuk yang beruntung. Kamu tidak pernah mengalami kesulitan pekerjaan dan penghasilan. Kamu selalu dapat pekerjaan yang baik dan menyenangkan. Kamu juga mendapat penghasilan yang layak. Bahkan kamu memiliki beberapa sumber penghasilan.

Sahabatku, aku ingin menunjukkan kepada kamu bahwa banyak orang yang mendambakan mendapat pekerjaan tapi tidak juga berhasil mendapatkan pekerjaan. Aku menulis ini bukan klise, tapi aku mengalaminya sendiri. Aku punya teman dan bahkan saudara yang sampai saat ini belum mendapat pekerjaan. Mulai dari latar belakang pendidikan yang memang sulit untuk mencari pekerjaan sampai dengan teman yang selalu mengalami PHK.

Tahukah engkau sahabatku bahwa mereka menganggur dalam bilangan tahunan, bukan bulanan lagi. Mereka sangat mendambakan pekerjaan yang halal walau pun dengan gaji yang minimal sebatas UMR. Bahkan jika ada yang menawarkan pekerjaan yang baik dengan upah di bawah UMR pun mereka bersedia.

Sahabatku, aku sendiri pernah cerita padamu kalau aku pun pernah mengalami hal yang tidak enak. Sudah 2 kali perusahaan tempat aku bekerja bangkrut dan tutup. Aku sudah bekerja beberapa bulan tetapi tidak digaji. Setelah PHK kedua aku memutuskan berwiraswasta dan hidup tanpa gaji berbulan-bulan.

Betapa aku dan banyak orang pernah mengalami pengalaman yang berat. Hidup berbulan-bulan tanpa penghasilan padahal harus menghidupi keluarga. Dan engkau, sahabatku, kamu tidak pernah mengalami hal yang serupa. Tetapi engkau dengan sangat emosi menumpahkan keluh-kesahmu padaku yang pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dari pada kamu.

Sahabatku, aku memang diam saat kamu berkeluh kesah. Tetapi dalam hatiku aku sedih karena engkau kurang bisa bersyukur. Padahal Tuhan itu sangat baik. Tuhan itu Maha Penyayang.

Sementara hanya ini dulu yang bisa aku tuliskan untukmu. Berdoalah selalu. Cobalah untuk dapat merasakan dan menikmati berkat, rahmat dan rejeki yang telah diberikan oleh Allah. Aku hanya dapat berdoa untukmu di sini.

Tuhan memberkati.

11 responses to “Sulit Bersyukur

  1. Hmmm… kalau aku bilang sih, manusia itu enggak pernah puas. Seperti temen ku, dulu waktu gajinya 1.5 dia bisa menabung 500rb / bulan pas gajinya naik, tabungannya tetep 500rb/bulan katanya keperluannya juga bertambah ^^

    Selain itu juga ada faktor, orang pengen gajinya gede tapi kerjanya enggak bener?! *tapi orangnya enggak mikir kesana untuk memper baiki diri ^^

    dan mungkin ada faktor lainnya yang harus kita pikirkan, dari diri kita dan dari sisi perusahaan ^^

  2. Kalo hanya mengejar materi:

    enough is always a little bit more

  3. Iya, tidak pernah ada kata cukup kalau kita tidak bisa bersyukur.

    Salam.

  4. Hmm … kayaknya pernah ngerasa gitu. Thx atas artikel yang menguatkan ini mas.

  5. Dear Pam,

    Sama-sama Mas Pam.

    GBU.

  6. Hallo Mas Dewo,

    Kayaknya penyakit sahbatmu itu juga penyakitku. Padahal dulu waktu ngga punya apa2 rasanya hati adem ayem. Pokoknya ngga ada yg dipikiran/dikawatirkan dan Tuhanpun selalu mencukupi kebutuhan kami.

    Tapi sekarang…..semuanya serba ada tapi rasanya kuraaaaaang terus dan rasa khawatir itu semakin meninggi padahal saya melihat jejak pertolongan Tuhan ada dimana2. Kenapa bisa begini yah. Karena itu saya bersyukur bisa nyasar di bloqnya mas Dewo. Saya ingin belajar bercermin dan tidak hanya melihat keatas saja dan hijaunya rumput tetannga.

    Tapi kok ngga mudeng yah saya bisa khawatir sementara semuanya ada. Dan inilah penyakit yg menyerang aku dan sekelilingku dan virus itu melanda dgn hebatnya. Semuanya tukang ngeluh…semuanya kurang puas..ssemuanya serba ngga cukup ..padahal dibandingkan dgn saudara2 yg lain kehidupan kami diatas rata2. Dan penyakit ini adalah penyakit yg terhebat yg melanda kami sampai kadang2 ngga bisa napas.

    Kenapa yah? Harusnya saya yg mempengaruhi lingkungan (sifat garam) but ini mana terbalik?
    Gimana mau jadi garam kalau begini mentalnya!!!!
    Berarti udah ngga ada deh asinnya (!!!!)

  7. @ Dear Citra Dewi,

    Memang sulit sekali melepaskan keinginan daging terhadap duniawi ini. Saya sendiri sampai sekarang sulit sekali untuk menekan keinginan daging tersebut. Terlalu banyak ambisi, obsesi, ego, kesombongan yang harus saya berantas dalam diri saya.

    Lagi-lagi saya sering kali terlalu lemah untuk itu. Saya selalu perlu bantuan Yesus. Justru di dalam kelemahan kitalah berkat Allah itu dapat kita rasakan.

    Puji Tuhan Mbak Citra telah menyadari dan mengalami berkat Allah yang luar biasa. Terima kasih atas sharingnya.

    Tuhan memberkati.

  8. Wah komennnya kelamaan, tapi masih belum out of date kok topiknya.

    Rasanya yang dialami sahabat pak dewo bukannya tidak bisa bersyukur. Mungkin pak dewo harus menyelami lebih jauh pemikirannya. Dengan demikian pak dewo akan dapat membantunya melepaskan diri dari kesedihannya. Jika pak dewo langsung men-judge bahwa dia tidak dapat bersyukur, rasanya itu malah memojokkan dia. Coba selami dulu kehidupannya. Dan yang lebih penting cari tahu dulu latar belakang pemikirannya.
    Nah, sekarang waktunya pak dewo untuk membuktikan apakah pak dewo dapat menjadi sahabat yang mampu memberikan solusi atas masalahnya.
    Gbu

  9. @ Dear Bune Lyntrias,

    Rasanya memang sulit sekali membantu jika sahabat sedang sedih & emosi. Yang bisa aku lakukan hanya menemaninya saja.

    Mungkin saya bukan sahabat yang baik, tetapi saya selalu berusaha untuk ada dimana sahabat saya membutuhkan saya. Saya sendiri tidak dapat memberikan solusi karena solusi ada dalam hati dia sendiri. Saya hanya bisa memberikan nasehat, tetapi diterima atau tidak adalah keputusan dia.

    GBU

  10. albertus edy haryoto

    puji tuhan atas segala yang kau berikan

  11. Aku juga pernah ngalamin masa2 sulit di mana aku hrs menunggu berbulan bulan untuk dpt kerjaan. Setelah dapat pekerjaan masih saja aku tidak bersyukur..entah masalah gaji, pekerjaan itu sendiri atoupun masalah dgn orang2 di dalamnya.
    Aku sadar setelah aku pernah ikut bantu HRD untuk hitung gaji orang lapangan…tyt gaji mereka sangat minim banget untuk hidup sehari2…waloupun begitu aku liat mereka ga pernah mengeluh, mereka bekerja dengan hati yang tulus…
    Dari situ aku belajar untuk bersyukur atas apa yg sudah aku terima, berapapun gaji kita Tuhan ga pernah kasih lebih atopun kurang..GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s