Mengasihi Sesamaku

Kali ini aku harus jujur terhadap diriku sendiri. Dan judul posting kali ini adalah “Mengasihi Sesamaku.” Ya, ada yang harus kutambahkan di judul, yaitu kata “ku”. Sebelumnya aku sudah menuliskan beberapa posting mengenai “kasih”, yaitu di:

Semuanya mengajak kita untuk mengasihi sesama. Refleksi kasih kita kepada Allah juga terpantul pada kasih kita kepada sesama. Tetapi walau pun aku sudah mendapatkan kasih dari Allah yang begitu luar biasa, mengapa aku belum bisa maksimal mengasihi sesamaku?

Terus terang aku masih jauh dari kata kasih. Aku masih belum mampu seratus persen sabar, rendah hati, mengampuni dan lain-lain. Padahal aku sudah banyak merasakan kasih Allah, kasih sahabat, kasih orang tua, kasih saudara-saudara dan keluarga.

Rasanya aku belum paham seratus persen apa itu kasih. Kali ini aku akan belajar memahami kasih dan menjadikannya sebagai bahasa hidupku.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
(I Korintus 13:4-6)

Ah, kok aku belum melakukan sepenuhnya? Rupanya wadah manusiawi keduniaanku belum mampu melakukan kasih yang sedemikian besar.

Tentu saja aku tidak akan mampu. Apalah arti kasih manusiawi duniawiku? Apalah arti kasihku jika semua yang kulakukan masih berasal dari hati manusiawiku? Bukankah hati manusia itu cenderung jahat?

Rupanya aku harus memohon bantuan Roh Kudus untuk hadir dalam hatiku. Biarlah Roh Kudus yang membantu, menuntun dan membimbingku dalam mengasihi sesama. Bukankah Roh Kudus itu perwujudan Kasih Allah yang demikian besar bagi kita? Bukankah Roh Kudus itu diutus Allah untuk menghibur dan membantu kita saat hidup di dunia ini?

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
(Galatia 5:22-23)

Ayat ini menampar keras hati duniawiku. Betapa apa yang aku lakukan selama ini atas nama kasih tidak ada artinya selama itu berasal dari hati manusiawiku tanpa pimpinan Roh Kudus. Semua yang kulakukan atas nama kasih selama ini adalah semu.

Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.
(Galatia 5:24-26)

Aku harus menyerahkan diriku pada Yesus karena DIA telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Aku harus hidup oleh Roh. Aku harus membiarkan hidupku dipimpin oleh Roh.

Allah Bapa di Surga, dalam nama Yesus Kristus Putera-Mu yang menjadi pengantara hidupku, aku mohon penyertaan Roh Kudus dalam hidupku. Aku mohon bimbingan dan tuntunan Roh Kudus yang oleh Kerahiman-Mu telah Kau utus untuk kami, umat-Mu.

Ubahlah hati dan hidupku seturut kehendak-Mu. Jadikanlah aku alat dan saluran kasih-Mu bagi sesamaku manusia. Hendaknya apa yang kulakukan berkenan di hadapan-Mu. Amin.

3 responses to “Mengasihi Sesamaku

  1. ak n sodara ak lg dieman ney uda ampir 2bln an…ga asik jg ya, kalo tiap papasan kita bedua dieman n ga ngobrol. Ampe pd suatu hr ada sepupu yg bertingkah lucu n kami semua pd ketawa n ga sengaja ak n sodara ku itu berpandangan (cieeeee..!). Ak rasa kami punya pikiran yg sama unt mulai berteman kembali, cuma ya itu…EGO nya kita terlalu gede unt memulai duluan.

    chaayoo!

  2. kunci dari perilaku MENGASIHI adalah jika
    kita “hidup untuk menghidupkan”,sebab YESUS hadir
    dan hidup di bumi,menderita sengsara,disalib,mati
    dan bangkit,supaya kita hidup,dan jika kita dan
    tidak dapat menghidupkan sesama lewat perbuatan
    yang nyata setiap hari,mana mungkai kita dapat
    mengasihi sesama dengan tulus dan benar di hada
    pan TUHAN.God Bless You

  3. jika kita dapat melupakan diri sendiri demi orang
    lain maka kasih akan hidup didalam diri kita,sebab
    kemampuan untuk mengasihi adalah hadiah terbesar
    yang TUHAN berikan pada manusia dan kemampuan ini
    tidak akan diambil dari mereka yang menggunakannya.Tuhan memberkati!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s