Haruskah Saya Kaya?

Seringkali saya bertanya pada diri saya sendiri: “Haruskah saya kaya?” Suatu kali saya dan Bune berbincang-bincang ringan yang pada akhirnya Bune menyimpulkan bahwa saya rupanya tidak punya bakat menjadi kaya secara material. Weks… Saya baru sadar bahwa saya itu orang yang biasa-biasa saja alias tidak kaya. Tetapi saya juga tidak berhasrat menjadi kaya.

Menurut pendapat saya pribadi, menjadi kaya bukanlah dosa. Tapi tentu harus dengan jalan yang baik dan bersih alias halal. Artinya bukan dari hasil merugikan orang lain atau pun dengan cara kotor alias berdosa atau pun kejahatan. Sah-sah saja seseorang itu menjadi kaya. Tapi juga, saya tidak iri kepada orang kaya.

Sebenarnya saya sudah sering membaca buku-buku motivasi bahkan hadir dalam seminar MLM yang mendorong dan menyemangati orang untuk menjadi kaya. Tetapi mengapa saya tidak tertarik dengan iming-iming harta melimpah yang diiming-imingkan para motivator mau pun militan MLM ya? Mungkin karena saya punya sifat dasar tertentu yang pada akhirnya Bune dapat menarik kesimpulan bahwa saya tidak punya bakat untuk menjadi kaya.

Kira-kira apa ya yang membuat saya tidak terlalu memiliki hasrat untuk menjadi kaya? Bahkan untuk menabung atau menumpuk kekayaan pun saya tidak terlalu berminat. Atau karena justru sifat dasar saya yang boros sehingga sulit sekali menabung atau menumpuk kekayaan?

Saya tidak kaya tetapi kehidupan saya dan keluarga serba tercukupi. Bahkan saya tidak mempunyai harta seperti kebanyakan orang.

Saya sudah sangat senang dengan kondisi saya saat ini. Tuhan telah memelihara saya dan keluarga dengan sangat baik. Tuhan selalu memberikan apa pun kepada saya sesuai dengan kebutuhan dan tepat pada waktunya. Dan pada akhirnya saya benar-benar menggantungkan kehidupan saya dan keluarga kepada Tuhan. Dan semuanya itu indah adanya.

Terima kasih Tuhan atas berkat, rahmat dan rejeki yang telah Engkau limpahkan kepada saya dan keluarga. Semoga semuanya itu juga dapat menjadi berkat bagi sesama.

28 responses to “Haruskah Saya Kaya?

  1. Hi…hi…hi…

    Mungkin kita mirip-mirip boss….
    Sedikit crita,
    Sayah punya 2 temen semasa SMA nyang sekarang kaya raya. Nyang satu kerja di kantor pajak, nyang satu di bea cukai….

    Soal kaya ndak kaya, menurut sayah mah soal cara pandang sajah.

    Untuk sayah pribadi, sayah ndak perlu kaya raya. Nyang penting, kalok sayah kepengen ini, kepengen itu, sayah bisa mbeli…

  2. @ Dear Bro Mbelgedez,

    Iya, Bro.
    Tapi kalau kepengen ini, kepengen itu dan bisa membeli, berarti itu kan kaya?

    Salam.

  3. Saya tidak kaya tetapi kehidupan saya dan keluarga serba tercukupi.

    Sepertinya justru itu yang sebenarnya dicari kebanyakan orang.
    Hidup cukup dan hati tenteram.

  4. yang penting kaya hati mas…

    salam

  5. Kalau pertanyaannya ditujukan ke saya, maka saya jawab harus. Cuma kekayaan yang diperoleh harus bisa dipertanggungjawabkan cara memperolehnya. Saya salut pada orang yang kaya dengan usaha yang tekun dan gigih. Biasanya orang seperti ini kaya melalui wirausaha atau menjadi profesional. Nah, sayangnya saya belum bisa menjadi orang seperti ini, ya jadi harus puas enggak jadi orang kaya. Kalau kaya karena kerja di pajak atau BC mah itu kaya enggak wajar. Saya yakin orang ini tidak akan bisa mempertanggungjawabkan kekayaannya.

  6. @ Dear Sigid,

    Iya betul. Hidup cukup dan hati tenteram. Plus aman dan damai.
    ~~~

    @ Dear Mama Icel,

    Iya betul. Salam juga.
    ~~~

    @ Dear Doeytea,

    Iya betul. Kaya tidak salah jika halal.

    Salam.

  7. gimana ya?
    meskipun menghendaki jadi kaya kalo bukan nasibnya juga gak bakalan kaya kaya,
    jadi terima aja pa adanya,
    gitu mungkin lebih bijaksana.

  8. Boleh dibaca2, bagus banget

    “Mengapa bebanku berat sekali?” aku berpikir sambil
    membanting pintu kamarku dan bersender.

    “Tidak adakah istirahat dari hidup ini?”

    Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi
    telingaku dengan bantal.

    “Ya Tuhan,” aku menangis, “Biarkan aku tidur…Biarkan
    aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!” Dengan
    tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku
    untuk melupakan.

    Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku, Lalu,
    suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku
    ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku
    pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan
    salib.

    “Anakku,” orang itu bertanya, “Mengapa engkau datang
    kepada-Ku sebelum Aku siap memanggilmu?”

    “Tuhan, aku mohon ampun. Ini karena… aku tidak bisa
    melanjutkannya. Kau lihat! betapa berat hidupku. Lihat
    beban berat di punggungku. Aku bahkan tidak bisa
    mengangkatnya lagi.”

    “Tetapi, bukankah Aku pernah bersabda kepadamu untuk
    datang kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban
    berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.
    Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun
    ringan.”

    “Aku tahu Engkau pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi
    kenapa bebanku begitu berat?”

    “Anak-Ku, setiap orang di dunia memiliki beban.
    Mungkin kau ingin mencoba salib yang lain?”

    “Aku bisa melakukan hal itu?”

    Ia menunjuk beberapa salib yang berada di depan
    kaki-Nya. Kau bisa mencoba semua ini. Semua salib itu
    berukuran sama. Tetapi setiap salib tertera nama orang
    yang memikulnya.

    “Itu punya Joan,” kataku.

    Joan menikah dengan seorang kaya raya. Ia tinggal di
    lingkungan yang nyaman dan memiliki 3 anak perempuan
    yang cantik dengan pakaian yang bagus-bagus.

    Kadangkala ia menyetir sendiri ke gereja dengan mobil
    Cadillac suaminya kalau mobilnya rusak.

    “Umm, aku coba punya Joan. Sepertinya hidupnya
    tenang-tenang saja. Seberat apa beban yang Joan
    panggul?” pikirku.

    Tuhan melepaskan bebanku dan meletakkan beban Joan di
    pundakku. Aku langsung terjatuh seketika.

    “Lepaskan beban ini!” teriakku.

    “Apa yang menyebabkan beban ini sangat berat?”

    “Lihat ke dalamnya.”

    Aku membuka ikatan beban itu dan membukanya. Di
    dalamnya terdapat gambaran ibu mertua Joan, dan ketika
    aku mengangkatnya, ibu mertua Joan mulai berbicara,
    “Joan, kau tidak pantas untuk anakku, tidak akan
    pernah pantas. Ia tidak seharusnya menikah
    denganmu.Kau adalah wanita yang terburuk untuk
    cucu-cucuku…”

    Aku segera meletakkan gambaran itu dan mengangkat
    gambaran yang lain. Itu adalah Donna, adik terkecil
    Joan. Kepala Donna dibalut sejak operasi epilepsi yang
    gagal itu.

    Gambaran yang ketiga adalah adik laki-laki Joan. Ia
    kecanduan narkoba,telah dijatuhi hukuman karena
    membunuh seorang perwira polisi.

    “Aku tahu sekarang mengapa bebannya sangat berat,
    Tuhan. Tetapi ia selalu tersenyum dan suka menolong
    orang lain. Aku tidak menyadarinya…”

    “Apakah kau ingin mencoba yang lain?” tanya Tuhan
    dengan pelan.

    Aku mencoba beberapa.

    Beban Paula terasa sangat berat juga: Ia melihara 4
    orang anak laki-laki tanpa suami.

    Debra punya juga demikian: masa kecilnya yang dinodai
    olah penganiayaan seksual dan menikah karena paksaan.

    Ketika aku melihat beban Ruth, aku tidak ingin
    mencobanya. Aku tahu di dalamnya ada penyakit
    Arthritis, usia lanjut, dan tuntutan bekerja penuh
    sementara suami tercintanya berada di Panti Jompo.

    “Beban mereka semua sangat berat, Tuhan” kataku.

    “Kembalikan bebanku”

    Ketika aku mulai memasang bebanku kembali, aku merasa
    bebanku lebih ringan dibandingkan yang lain.

    “Mari kita lihat ke dalamnya,” Tuhan berkata.

    Aku menolak, menggenggam bebanku erat-erat.

    “Itu bukan ide yang baik,” jawabku,

    “Mengapa?”

    “Karena banyak sampah di dalamnya.”

    “Biar Aku lihat”

    Suara Tuhan yang lemah lembut membuatku luluh. Aku
    membuka bebanku. Ia mengambil satu buah batu bata dari
    dalam bebanku.

    “Katakan kepada-Ku mengenai hal ini.”

    “Tuhan, Engkau tahu itu. Itu adalah uang. Aku tahu
    kalau kami tidak semenderita seperti orang lain di
    beberapa negara atau seperti tuna wisma di sini.
    Tetapi kami tidak memiliki asuransi, dan ketika
    anak-anak sakit, kami tidak selalu bisa membawa mereka
    ke dokter. Mereka bahkan belum pernah pergi ke dokter
    gigi. Dan aku sedih untuk memberikan mereka pakaian
    bekas.”

    “Anak-Ku, Aku selalu memberikan kebutuhanmu…. dan
    semua anak-anakmu. Aku selalu memberikan mereka badan
    yang sehat. Aku mengajari mereka bahwa pakaian mewah
    tidak membuat seorang berharga di mataKu.”

    Kemudian ia mengambil sebuah gambaran seorang anak
    laki-laki.!

    “Dan yang ini?” tanya Tuhan.

    “Andrew…” aku menundukkan kepala, merasa malu untuk
    menyebut anakku sebagai sebuah beban.

    “Tetapi, Tuhan, ia sangat hiperaktif. Ia tidak bisa
    diam seperti yang lain, ia bahkan membuatku sangat
    kelelahan. Ia selalu terluka, dan orang lain yang
    membalutnya berpikir akulah yang menganiayanya. Aku
    berteriak kepadanya selalu. Mungkin suatu saat aku
    benar-benar menyakitinya…”

    “Anak-Ku,” Tuhan berkata.

    “Jika kau percayakan kepada-Ku, aku akan memperbaharui
    kekuatanmu, dan jika engkau mengijinkan Aku untuk
    mengisimu dengan Roh Kudus, aku akan memberikan engkau
    kesabaran.”

    Kemudian

    Ia

    mengambil beberapa kerikil dari bebanku.

    “Ya, Tuhan..” aku berkata sambil menarik nafas
    panjang.

    “Kerikil-kerikil itu memang kecil. Tetapi semua itu
    adalah penting. Aku membenci rambutku. Rambutku tipis,
    dan aku tidak bisa membuatnya kelihatan bagus. Aku
    tidak mampu untuk pergi ke salon. Aku kegemukan dan
    tidak bisa menjalankan diet. Aku benci semua
    pakaianku. Aku benci penampilanku!”

    “Anak-Ku, orang memang melihat engkau dari penampilan
    luar, tetapi Aku melihat jauh sampai ke dalamnya
    hatimu. Dengan Roh Kudus, kau akan memperoleh
    pengendalian diri untuk menurunkan berat badanmu.
    Tetapi keindahanmu tidak harus datang dari luar.
    Bahkan, seharusnya berasal dari dalam hatimu,
    kecantikan diri yang tidak akan pernah hilang dimakan
    waktu. Itulah yang berharga di mata-Ku.”

    Bebanku sekarang tampaknya lebih ringan dari
    sebelumnya.

    “Aku pikir aku bisa menghadapinya sekarang,” kataku,

    “Yang terakhir, berikan kepada-Ku batu bata yang
    terakhir.” kata Tuhan.

    “Oh, Engkau tidak perlu mengambilnya. Aku bisa
    mengatasinya.”

    “Anak-Ku, berikan kepadaKu.”

    Kembali suara-Nya membuatku luluh. Ia mengulurkan
    tangan-Nya, dan untuk pertama kalinya Aku melihat
    luka-Nya.

    “Tuhan….Bagaimana dengan tangan-Mu? Tangan-Mu penuh
    dengan luka!!”

    Aku tidak lagi memperhatikan bebanku, aku melihat
    wajah-Nya untuk pertama kalinya. Dan pada dahi-Nya,
    kulihat luka yang sangat dalam… tampaknya seseorang
    telah menekan mahkota duri terlalu dalam ke dagingNya.

    “Tuhan,” aku berbisik.

    “Apa yang terjadi dengan Engkau?”

    Mata-Nya yang penuh kasih menyentuh kalbuku.

    “AnakKu, kau tahu itu. Berikan kepadaku bebanmu. Itu
    adalah milikKu. Aku telah membelinya.”

    “Bagaimana?”

    “Dengan darah-Ku”

    “Tetapi kenapa Tuhan?”

    “Karena aku telah mencintaimu dengan cinta abadi, yang
    tak akan punah dengan waktu. Berikan kepadaKu.”

    Aku memberikan bebanku yang kotor dan mengerikan itu
    ke tangan-Nya yang terluka. Beban itu penuh dengan
    kotoran dan iblis dalam kehidupanku: kesombongan,
    egois, depresi yang terus-menerus menyiksaku. Kemudian
    Ia mengambil salibku kemudian menghempaskan salib itu
    ke kolam yang berisi dengan darahNya yang kudus.

    Percikan yang ditimbulkan oleh salib itu luar biasa
    besarnya.

    “Sekarang anak-Ku, kau harus kembali. Aku akan
    bersamamu selalu. Ketika kau berada dalam masalah,
    panggillah Aku dan Aku akan membantumu dan menunjukkan
    hal-hal yang tidak bisa kau bayangkan sekarang.”

    “Ya, Tuhan, aku akan memanggil-Mu.”

    Aku mengambil kembali bebanku.

    “Kau boleh meninggalkannya di sini jika engkau mau.
    Kau lihat beban-beban itu? Mereka adalah kepunyaan
    orang-orang yang telah meninggalkannya di kakiKu,
    yaitu Joan, Paula, Debra, Ruth… Ketika kau
    meninggalkan bebanMu di sini, aku akan menggendongnya
    bersamamu. Ingat, kuk yang Kupasang itu enak dan
    beban-Ku pun ringan.”

    Seketika aku meletakkan bebanku, cahaya itu mulai
    menghilang. Namun, masih kudengar suaraNya berbisik,
    “Aku tidak akan meninggalkanmu, atau melepaskanmu.”

    GBU

  9. Ping-balik: LIFE BEGIN AT FOURTY « Mbelgedez

  10. wahhh…
    bingung neh mas ngomongnya….

    kaya???
    berarti uang selalu nomer 1 yaa???

    buat saya…
    UANG ITU NOMOR 9 !!!

    tapi………..

    yang nomor 1 sampe 8-nya KOSONGGGGG….

    Wakakakkkk….

    kalo gitu termasuk pengen dan harus kaya gak???

    hihihi…

    btw…numpang masuk sekalian kenalan yaakkk…
    🙂

  11. @ Dear Felix Radioholix,

    Hehehe…

    Salam kenal juga.

  12. kaya maksudnya kaya hati. Punya banyak uang tapi hati ndak tentram ya mungkin cuma diluar keliatan bahagia. Tapi didalam hati siapa yang tahu?
    Kalo udah pernah melihat dan mendalami dunia pedesaan seperti mingsal kampung di sekitar pegunungan atau desa tertinggal. Bagi mereka uang bukanlah segala-galanya, yang penting untuk besok masih ada yang bisa dimakan. Tapi untuk kita-kita orang modern, mungkin tidak bisa seperti itu. Jadi mangsud saya adalah kita masih beruntung menjadi manusia yang lengkap kekayaannya. Lengkap dalam artian masih bisa merasakan apa yang kita inginkan bisa terpenuhi.

  13. @ Dear Beratz,

    Iya betul.
    Salam.

  14. ak pernah nanya emak ku, ‘mak kita ini benernya orang kaya ga sih?’ n emak ku bilang ‘iya, kita kaya di dlm Tuhan” xixixiiii😀

    ak punya mimpi punya 100 anak santun di wahana visi Indonesia…’itu jg bila Tuhan berkenan’ AMIEN!

    berarti kalo ingin mewujudkan mimpi itu, ak kudu jd orang kaya dulu ya?😀

    –> A DREAM IS A VISION <–

  15. Trims atas bantuan web ini….!
    Dengan web ini aku banyak mendapatkan informasi-informasi dan renungan-renungan.

  16. dengan harta,orang belum tentu bahagia, tapi tanpa harta, orang pun sulit akan bahagia.

  17. Padahal kalo kita tahu rencana Allah buat kita adalah menjd saluran berkat. Salah satunya menjadi kaya agar bisa memberkati bnyk orang. Coba liat tokoh2 alkitab ky Abraham,Ishak,Yakub,Daud,Salomo,Ayub dll mereka adalah konglomerat semua pd jamannya. Allah ga mau kita menjadi kristen yg biasa2 aja.
    GBU All

  18. @ Dear Nizar Al-Kadiri,

    Iya, bisa juga begitu.
    ~~~

    @ Dear Victorian,

    “Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.”

    GBU

  19. nice blog, somehow i visit your blog

  20. Kaya…..
    Banyak ukurannya mas….
    Kalo’ saya ukuran kaya itu seberapa besar seseorang dapat memberikan miliknya kepada orang lain dengan senang dan ikhlas….
    So… kalo iklasnya ngasih gopek ya berarti kekayaannya cuma gopek…
    Kalo nggak iklas ngasih biar cuma seperak…. duu…h kasian bener miskin kaleeee……

  21. sebenernya mas dewo udah kaya.

    kaya itu ngga selalu berbentuk harta mas.
    merasa cukup itu untuk saya sama dengan kaya.

    uang bukanlah hal terpenting, tapi hal-hal penting di dunia ini membutuhkan uang.

    rgrds.

  22. @ Dear Pakdhe,

    Iya, kita bisa melihatnya dari sudut pandang keikhlasan kita.
    ~~~

    @ Dear Fikri69,

    Betul banget. Lebih baik kaya hatinya.

    GBU

  23. Kalau menurut saya, kaya itu HARUS. Untuk berbuat baikpun, kalau kita kaya akan lebih mudah. Hehehe

  24. @ Dear Pam,

    Iya, ada benarnya juga.

    Salam.

  25. kaya apa engga menurut gue cuman gini aja
    Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenanrnnya……….nah udah itu lupain yang namanya pamrih, lupain kebaikan lo buat orang tapi terusklah berbuat baik

    nah cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada dan halal bagimu

    Matius 6:33

  26. Good article…
    kaya itu menurut versiku bukan dari besar/kecilnya atau banyak/dikitnya fasilitas & investasi yang ku punya akan tetapi seberapa sering aq memberi daripada diberi. as my mom advice : Kalau kita mendapat berkat hendaknya kita menjadi saluran berkat lagi bagi orang lain. tq. (JIM’S)

  27. “Tuhan selalu memberikan apa pun kepada saya sesuai dengan kebutuhan dan tepat pada waktunya.”

    Saya baru baca artikel ini sekarang… maklum selama ini gaptek… baru kali ini coba2 ngenet…. tapi sekalinya kok “kecantol” ama artikel ini…
    Wah kok sama dengan pengalaman keluarga saya yaa??? Ibu saya tuh hampir tidak pernah menang undian… eh.. tapi sekalinya pas lagi perlu duit banget tau2 dapat hadiah undian sepeda motor lho! Puji Tuhan!! Kok Beliau tauuuuu aja yaa ama keperluan kita??

  28. Sebagai anak2 Tuhan yang mendiAmi bumi cipataanX yg penuh dengan kekeyaAn ini,,, kita tidak dilarang untuk menjadi kaya materi asalkan itu sesuai n sejalan dgn kehendak Tuhan,,, tapi yang terpentin n tidk menjadi masalah pula apabila kita merasa puas dgn apa yg kita miliki saat ini,,,, tapi adakalax pemahaman ini membuat kita menjadi miskin dan berkesusahan dan membawa kita kepada ambang persungutan yg tiada henti2x,,, tapi adakalax kita bisa berupa u lebih giat dalam bekerja sehingga harta yang kita dapatkan,, dapat kita bagikan juga bagi yg membutuhkan,, hitung2 sebagai perbuatan baik guna menambung di surga nanti,,,, GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s