Cara Mengemis Yang Baik

Judul yang sangat iseng tentunya, seiseng apa yang mau daku utarakan di sini. Tapi ini pengalaman pribadi antara daku dengan seorang pengemis wanita di sebuah pertigaan, yang seolah ingin menyampaikan sesuatu untuk dipelajari dalam hidup ini.

Dia adalah seorang ibu yang mencari nafkah dengan cara mengemis. Biasanya dia mangkal di pertigaan itu dengan 2 pengemis wanita yang lain. Ada sesuatu yang membedakan antara dia dengan 2 pengemis yang lain, yaitu semangatnya, dan juga senyum tulusnya.

Diawali dengan berjalan mendekati mobil, menundukkan diri sambil menengadahkan toples kecil (mungkin memang toples) bersih yang telah berisi beberapa keping uang. Sejak pertama kali melihatnya, daku sudah merasakan bedanya dengan pengemis lain. Yaitu karena wajahnya lebih nampak bersinar. Mungkin karena senyumnya yang tulus. Dan ketika kuberikan sekeping uang, dia menyambutnya dengan suka cita sambil dengan bersemangat mengucapkan, “terima kasih, Om.”

Nampaknya daku harus menggarisbawahi beberapa hal yang membedakannya dengan pengemis lain, yaitu: 1) dengan sopan dia mendatangi setiap mobil dengan membungkuk dan tersenyum seolah mengucapkan salam. Tidak hanya itu, dia melakukannya dengan penuh semangat. 2) menerima pemberian dengan penuh suka cita, dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Nampak sekali dia begitu gembira setiap menerima uang pemberian.

Mungkin pembaca menilai kalau daku terlalu subyektif dalam menilainya. Namun daku telah beberapa kali membuktikannya dengan memberinya uang setiap kali lampu merah menyala di pertigaan itu. Dan itu dia lakukan setiap kalinya.

Daku juga membandingkannya dengan ke-2 pengemis wanita lain yang sering kali mengemis bersamanya. Ke-2 pengemis wanita lain itu memang nampak memelas sekali. Mungkin ke-2 pengemis itu memasang wajah dimelas-melaskan supaya mendapat rasa simpati atau kasihan. Gerak mereka juga tidak selincah dan tidak sesemangat pengemis wanita yang kuceritakan tadi. Ketika diberi uang, keduanya hanya menunduk sekali tanpa senyuman atau ucapan terima kasih. Kadangkala keduanya berbicara dengan lirih, nyaris berbisik dan tidak terdengar, sehingga kita tidak tahu apa yang mereka katakan saat menerima pemberian.

Entah mengapa, daku kok lebih senang memberi uang kepada pengemis wanita yang pertama itu dari pada ke-2 pengemis yang sebenarnya lebih tipikal pengemis. Atau daku saja yang salah menilai? Bukankah yang diberi seharusnya yang benar-benar memelas? Bukankah seharusnya memberi yang benar-benar “pengemis”?

Walau pun pada akhirnya sering kali daku memberi ketiganya, namun daku tetap lebih senang memberi ke ibu yang pertama. Sehingga saat recehanku tinggal satu, aku lebih memilih memberi ke ibu yg pertama. Mungkin daku salah, namun ada sesuatu tersembunyi dari ibu itu yang seolah mengajarkan dan mengingatkan kepada kita akan Kolese ayat 3:23, yaitu:

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Oh, rupanya itu cara mengemis yang baik. Ups… rupanya itulah cara kita bekerja yang baik, yaitu dengan bekerja dengan segenap hati seperti bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, apa pun pekerjaan kita.

~~

Terkait: “Bekerja Seperti Bekerja Untuk Tuhan”

6 responses to “Cara Mengemis Yang Baik

  1. Mengemis memang tidak salah, tapi menurut saya alangkah baiknya bila pengemis yang bersemangat tersebut berkarya di bidang lain. Bukannya saya mengabaikan kondisi mereka, tapi ada cara yang lebih baik untuk memperoleh rezeki yang Tuhan sediakan.
    Salam kenal Kak Dewo!

  2. pengemis itu karna terpaksa???

  3. Ketika seseorang brada dlm jerat Kuasa Gelap mk mrk jauh dr berkat Tuhan. So, mgemis lebih baik drpd mncuri, rampok & mmbunuh. Kt yg dberkati wajib mberkati semua org. Thx & GBU all.

  4. Pernah sy brtemu dg pengemis. Dg pengertian yg Tuhan berikan spt yg sy tulis pd komentar di atas mk sy dg bbrp teman brdoa & tumpangkn tangan pd org tsb. Tdk brpa lama, keluarga org tsb prduli & mncari org tsb. Haleluya!!!

  5. Saya pernah ketemu pengemis wanita, sehat dan subur badannya. Karena uang receh di dompet cuma 300 rupiah, ya cuma itulah yang saya kasihkan padanya. dan…. Saya dimaki-maki… He..he… Padahal saya ikhlas lho buk… he..he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s